Rutinitas yang sama tapi tidak dicintai membuat hati tak sepenuhnya hadir. Alasan tetap menjalaninya hanya sekedar 'sudah terlanjur' jadi ya 'yasudahlah'. Menepis semua pilihan lain yang bisa jadi lebih memberi makna. Padahal hidup bukan sekedar diminta untuk menyambungnya, bertahan dengan keterpaksaan. Bukan, bukan itu. Tapi lebih dari itu.
Jika hanya karna keterpaksaan maka lelah akan terus kita rasakan.
Kendali hidup sepenuhnya ada di tangan kita, setelahnya baru kepada Sang Pencipta. Pasrah bukan berarti tanpa usaha sama sekali, berserah bukan berarti ikuti saja alurnya tanpa menentukan pilihan terbaik. Ada hal yang memang di ranah kita, dan ada yang di ranah Sang Pencipta. Perlunya kita mengidentifikasi itu semua, agar tak mencampuradukkannya.
Apapun pekerjaan atau kesibukanmu hari ini, hadirilah sepenuhnya, hati, jiwa dan raga. Jika awalnya terpaksa, coba renungi lagi, hal baik apa yang bisa kamu berikan kepada orang lain melalui pekerjaan atau kesibukanmu itu. Reset kembali niat agar sepenuhnya hanya untuk-Nya. Jalani semunya dengan maksimal yang kita bisa sekecil apapun peran yang kita terima.
Jika ada kesempatan untuk memilih yang lain, maka pertimbangkan dengan baik dan pikirkan juga konsekuensinya.
Kita masih ada disini karena cinta-Nya, maka pantaskah kita menjalani semunya tanpa rasa?
Menjadi baik itu harus dan sadar untuk terus lebih baik itu perlu.